Kapan
Negeriku bahagia
Jika pemimpin hanya mencari tempat dan nama
Menjajakan janji-janji di pinggir jalan
Riuhkan rencana-rencana
Agar kami tergoda
Menusuk mereka di balik bilik
Kapan
Negeriku terbebas dari
Perampok-perampok berdasi
Yang merampas hak kami
Kapan
Negeriku damai
Raga dan jiwa menyatu sejahtera
Membangun negeri tercinta
Kapan
Kapan
Dan kapan
Mimpi kecil ini kan jadi nyata
alunan jemari ini telah menorehkan sejarah baru melalui ukiran kata sederhana yang menjadi puisi dengan iringan gending celoteh dalam sebuah cerita pendek yang dilakonkan rapi dalam drama kehidupan..... kini serpihan karya-karya itu kupasang dalam kotak puzzle blogku..
16.4.11
?
Dimana kau berada
Ketika orang tak berhati itu
Menjarah barang di toko kami
Mengapa tak kau cegah
Kemana kau pergi
Ketika kami tertindih duka
Mendung menyelimuti langit kami
Kenapa kau acuhkan
Dimana kau berada
Ketika tanganmu kami butuhkan
Hei orang-orang berlebel polisi
Ketika orang tak berhati itu
Menjarah barang di toko kami
Mengapa tak kau cegah
Kemana kau pergi
Ketika kami tertindih duka
Mendung menyelimuti langit kami
Kenapa kau acuhkan
Dimana kau berada
Ketika tanganmu kami butuhkan
Hei orang-orang berlebel polisi
Dunia Kita
Luka memang hatiku
Menyaksikan kau tercabik kemiskinan
Oleh tingkah kehidupan
Tak adil memang
Manusia berdasi makan keju
Kau hanya makan sisa kemarin
Tapi, inilah dunia kita
Orang-orang kaya berlomba membuat gunung emas
Sedangkan kau hanya bisa membuat gunungan sampah
Andai mereka tahu
Hakmu ada padanya
Akankah mereka kan berbagi?
Tidak !
Ku rasa tidak
Terlalu padat egonya tuk dicairkan
Terlalu tebal dinding es dihatinya
Hingga tak mampu ditembus
Oleh panasnya nurani
Menyaksikan kau tercabik kemiskinan
Oleh tingkah kehidupan
Tak adil memang
Manusia berdasi makan keju
Kau hanya makan sisa kemarin
Tapi, inilah dunia kita
Orang-orang kaya berlomba membuat gunung emas
Sedangkan kau hanya bisa membuat gunungan sampah
Andai mereka tahu
Hakmu ada padanya
Akankah mereka kan berbagi?
Tidak !
Ku rasa tidak
Terlalu padat egonya tuk dicairkan
Terlalu tebal dinding es dihatinya
Hingga tak mampu ditembus
Oleh panasnya nurani
Rasaku
Bahagia ku disini
Lima menjadi satu di negeriku
Membangun damai bersama
Walau berbeda
Bahagia ku disini
Rukun menghormati perbedaan
Keyakinan yang tertancap dihati
Bahagia ku disini
Di negeri yang kata orang miskin
Tak apalah
Ku bahagia bersamanya
Lima menjadi satu di negeriku
Membangun damai bersama
Walau berbeda
Bahagia ku disini
Rukun menghormati perbedaan
Keyakinan yang tertancap dihati
Bahagia ku disini
Di negeri yang kata orang miskin
Tak apalah
Ku bahagia bersamanya
Terimakasih
Terimakasih Tuhan
Lewat tangan Malaysia
Kau sadarkan kami
Manusia-manusia buta
Akan negerinya sendiri
Terimakasih Tuhan
Kau buat kami tahu
Negeri ini berharta
Terimakasih Tuhan
Kini kami mengerti
Limpahan budaya yang terkubur di negeri kami
Perlu digali
Dan
Butuh diakui
Lewat tangan Malaysia
Kau sadarkan kami
Manusia-manusia buta
Akan negerinya sendiri
Terimakasih Tuhan
Kau buat kami tahu
Negeri ini berharta
Terimakasih Tuhan
Kini kami mengerti
Limpahan budaya yang terkubur di negeri kami
Perlu digali
Dan
Butuh diakui
Terhimpit Kemiskinan
Aku tergulung lautan derita
Yang dari lahir ku bawa
Lelah ku arungi samudra kehidupan
Yang terlanjur tak memihak
Manusia-manusia berkain perca
Seperti aku
Dan mereka
Yang lama tidur berselimut seonggok sampah
Sampai kapan seperti ini?
Sudah kenyang ku makan hati
Selalu bermimpi sepotong roti
Tak banyak pintaku
Bukan atap megah
Bukan pula sutra
Hanya ingin cicipi butiran padi tiga kali sehari
Namun,
Di negeriku itu
Pun sepertinya
Serasa inginkan mentari di malam gelap
Yang dari lahir ku bawa
Lelah ku arungi samudra kehidupan
Yang terlanjur tak memihak
Manusia-manusia berkain perca
Seperti aku
Dan mereka
Yang lama tidur berselimut seonggok sampah
Sampai kapan seperti ini?
Sudah kenyang ku makan hati
Selalu bermimpi sepotong roti
Tak banyak pintaku
Bukan atap megah
Bukan pula sutra
Hanya ingin cicipi butiran padi tiga kali sehari
Namun,
Di negeriku itu
Pun sepertinya
Serasa inginkan mentari di malam gelap
Karena Mereka
Sunyi
Tak ada lagi nyanyian hutan
Terdengar di telingaku
Tinggal sisa gema nyanyian yang dulu
Pun kini memudar
Itu karena mereka
Tangan tak bertanggungjawab
Rampas musik alamku
Kini
Makin parah adanya
Semua terlihat getir
Memandang kepulan bau anyir
Sisa gunungan sampah
Yang kemarin diacuhkan
Gelak tawa bahagia berganti duka dan air mata
Ketika amukan banjir menampar tiba-tiba
Sejarah luka terulang
Menjadi milik kita kembali
Karena mereka
Tangan tak berhati
Tak ada lagi nyanyian hutan
Terdengar di telingaku
Tinggal sisa gema nyanyian yang dulu
Pun kini memudar
Itu karena mereka
Tangan tak bertanggungjawab
Rampas musik alamku
Kini
Makin parah adanya
Semua terlihat getir
Memandang kepulan bau anyir
Sisa gunungan sampah
Yang kemarin diacuhkan
Gelak tawa bahagia berganti duka dan air mata
Ketika amukan banjir menampar tiba-tiba
Sejarah luka terulang
Menjadi milik kita kembali
Karena mereka
Tangan tak berhati
Tlah Pergi
Seindah rona merah langit
Hijaumu manjakan indraku
Lepaskan penat yang lama bersahabat
Sayang
Kini kau tlah pergi
Bukan inginmu memang
Saudaraku memaksamu
Mengganti posisi dengan barisan atap
Sebagai buah pikir dari kerumitan teori
Dan ungkapan keegoisan
Ah ! Sungguh
Sesal tertinggal
Dalam jiwa tanpa daya
Hijaumu manjakan indraku
Lepaskan penat yang lama bersahabat
Sayang
Kini kau tlah pergi
Bukan inginmu memang
Saudaraku memaksamu
Mengganti posisi dengan barisan atap
Sebagai buah pikir dari kerumitan teori
Dan ungkapan keegoisan
Ah ! Sungguh
Sesal tertinggal
Dalam jiwa tanpa daya
Inginku
Inginku sepertimu
Walau rapuh raga tetap berbagi
Pudarkan pekat malam
Tuk kami yang kegelapan
Apakah ku bisa?
Relakan raga tersakiti
Sepertimu
Tuk buat senyum berkembang di bibir tak tahu malu
Andai ku bisa
Kandangkan ego dalam pikir
Yakin bijak pun kan lahir
Namun ku rasa
Inginku tak sampai
Terbentengi keegoisan yang kian menjamur
Walau rapuh raga tetap berbagi
Pudarkan pekat malam
Tuk kami yang kegelapan
Apakah ku bisa?
Relakan raga tersakiti
Sepertimu
Tuk buat senyum berkembang di bibir tak tahu malu
Andai ku bisa
Kandangkan ego dalam pikir
Yakin bijak pun kan lahir
Namun ku rasa
Inginku tak sampai
Terbentengi keegoisan yang kian menjamur
Mereka Bukan untuk Kami
Mereka berbaris rapi
Menatapku dalam kebisuannya
Berdiri anggun berbalut hiasan kemewahan
Lahir dari rahim pikir manusia
Mereka busungkan dada
Pada kami yang hina
Bergaya elok bagai merak
Cerminan si empunya
Tak ada kasih yang dibagi
Mereka bukan milik kami
Bukan untuk kami
Raga yang tertutup perca
Mereka
Untuk mereka
Manusia-manusia berdasi
Menatapku dalam kebisuannya
Berdiri anggun berbalut hiasan kemewahan
Lahir dari rahim pikir manusia
Mereka busungkan dada
Pada kami yang hina
Bergaya elok bagai merak
Cerminan si empunya
Tak ada kasih yang dibagi
Mereka bukan milik kami
Bukan untuk kami
Raga yang tertutup perca
Mereka
Untuk mereka
Manusia-manusia berdasi
Raga yang Membisu
Kau tegap berdiri di sudut itu
Tak sempurna memang
Guratan ragamu nampak dimataku
Namun,
Kau tetap bertahan
Walau air mata langit kerap kali menggodamu
Demi masa yang kan hadir
Untukku dan mereka
Kau selalu membisu
Menyimpan rahasia sejarah
Yang lahir diragamu
Tak sempurna memang
Guratan ragamu nampak dimataku
Namun,
Kau tetap bertahan
Walau air mata langit kerap kali menggodamu
Demi masa yang kan hadir
Untukku dan mereka
Kau selalu membisu
Menyimpan rahasia sejarah
Yang lahir diragamu
Sesal
Guru,
Kau pudarkan pekat malam dunia
Sebarkan mentari tuk masa depan
Lambat ku sadari
Hadirmu untukku
Memberi warna dalam kanvas kehidupan
Andai ku tahu lebih awal
Tak kan ku biarkan
Pikir busukku bersemayam
Mengisi rongga-rongga otakku
Saat masih putih biru
Waktu membuka mata sayuku
Dari salah pikir tak berdosa
Dari pandangan tak bersalah
Saat putih abu-abu membalut ragaku
Baru ku sadari
Hadirmu berarti
Tuk torehkan jejak sukses di ruangku
Guru,
Sesal menyergap
Jiwa yang tak tahu malu ini
Kau pudarkan pekat malam dunia
Sebarkan mentari tuk masa depan
Lambat ku sadari
Hadirmu untukku
Memberi warna dalam kanvas kehidupan
Andai ku tahu lebih awal
Tak kan ku biarkan
Pikir busukku bersemayam
Mengisi rongga-rongga otakku
Saat masih putih biru
Waktu membuka mata sayuku
Dari salah pikir tak berdosa
Dari pandangan tak bersalah
Saat putih abu-abu membalut ragaku
Baru ku sadari
Hadirmu berarti
Tuk torehkan jejak sukses di ruangku
Guru,
Sesal menyergap
Jiwa yang tak tahu malu ini
Ayah
Ayah
Lambat ku kenali rasa ini
Cinta yang terselip dalam amarahmu
Membakar letih ragamu
Ayah
Kau harus tahu
Rasaku juga milikmu
Walau tak sanggup ku lahirkan dari bibir kecil ini
Ayah
Kau harus mengerti
Bangga menyelimuti jiwa ini
Ketika ku tunjukkan namamu
Ayah
Terimakasih
Kau biarkan ragamu menghitam
Tuk buat jiwaku merona
Lambat ku kenali rasa ini
Cinta yang terselip dalam amarahmu
Membakar letih ragamu
Ayah
Kau harus tahu
Rasaku juga milikmu
Walau tak sanggup ku lahirkan dari bibir kecil ini
Ayah
Kau harus mengerti
Bangga menyelimuti jiwa ini
Ketika ku tunjukkan namamu
Ayah
Terimakasih
Kau biarkan ragamu menghitam
Tuk buat jiwaku merona
Ibu
Saat langit melahirkan rona merahnya
Kau kandangkan rasaku
Menguapkan benih benih ketakutan
Yang terlahir dari rahim kesendirian
Saat itulah
Ibu,
Kau sebarkan mentari pada jiwa ini
Terik yang membuatku mengerti
Hadirmu berarti
Ibu,
Dalam rapuh ragamu
Tersimpan deretan pasukan keberanian
Yang siap berjuang
Hingga lahir pelangi di ruangku
Kau kandangkan rasaku
Menguapkan benih benih ketakutan
Yang terlahir dari rahim kesendirian
Saat itulah
Ibu,
Kau sebarkan mentari pada jiwa ini
Terik yang membuatku mengerti
Hadirmu berarti
Ibu,
Dalam rapuh ragamu
Tersimpan deretan pasukan keberanian
Yang siap berjuang
Hingga lahir pelangi di ruangku
Langganan:
Postingan (Atom)