Ketika hujan mulai menapaki jejaknya
Gerimis turun dari sudut mataku
Bersama bermuara pada tanah
Tanah adalah sampah
Dari sisa kata yang terbuang Cuma
Tanah adalah mata
Saksi tiap tapak tak berdosa
Menjadi budak dalam ruangnya
Saksi tiap gerik serigala liar
Yang memakan bangkai saudaranya
Tanah adalah telinga
Pendengar setia dari serpihan kata tak bermakna
Tanah adalah penjaga rahasia
Diserapnya kata-kata kelam yang dihujamkan
Serigala liar,
Dikunci rapat bibirnya tuk tak bersua
Dalam kebisuannya tanah adalah saksi
alunan jemari ini telah menorehkan sejarah baru melalui ukiran kata sederhana yang menjadi puisi dengan iringan gending celoteh dalam sebuah cerita pendek yang dilakonkan rapi dalam drama kehidupan..... kini serpihan karya-karya itu kupasang dalam kotak puzzle blogku..
10.7.11
Jejak Senja
Kemarin ketika senjaku datang...
Mawar tumbuh di karangan
Mekar dalam ruang kosong
Tanpa rasa tanpa nada
Setetes harapan pun ada
Merobekkan rongga-rongga keraguan
Meruntuhkan dinding kesunyian
Lalu...
Kemarin ketika senjaku tinggal
Pelangi pun kian merona
Pada gerimis pagi di sudut mata
Namun...
Kemarin ketika senjaku pergi
Malam menjemput
Lama nian tak kunjung berakhir
Enggan senyum pagi menyapa
Pada ayam yang berdendang
Pun enggan tinggalkan
Jangkrik bermusik
Mawar tumbuh di karangan
Mekar dalam ruang kosong
Tanpa rasa tanpa nada
Setetes harapan pun ada
Merobekkan rongga-rongga keraguan
Meruntuhkan dinding kesunyian
Lalu...
Kemarin ketika senjaku tinggal
Pelangi pun kian merona
Pada gerimis pagi di sudut mata
Namun...
Kemarin ketika senjaku pergi
Malam menjemput
Lama nian tak kunjung berakhir
Enggan senyum pagi menyapa
Pada ayam yang berdendang
Pun enggan tinggalkan
Jangkrik bermusik
Langkah Jiwa
Bersama mentari ku leburkan amarah dalam dada
Menyatu dengan kebencian yang terlahir dari tingkahmu
Manisnya kasih dulu
Kini berganti asamnya rasa
Tak terpikir
Tak pernah terasa
Pun terbayangkan
Hilang...
Pergi bersama angin yang menderu
Bercampur awan mendung
Hingga menjadikannya kian kelam
Bersama senja ku tinggalkan kisah
Antara jiwa yang pernah terkait
Menjemput malam dengan setitik harap
Kan bertemu bintang dalam pekat
Dipandu kunang-kunang
Ku jejaki samudra angan
Berlari menyusuri nampan kehidupan
Mencari jiwa yang pasti
Tempatkan ku di masa depannya
Namun...
Hingga fajar datang mentari tak kunjung bersinar
Menyatu dengan kebencian yang terlahir dari tingkahmu
Manisnya kasih dulu
Kini berganti asamnya rasa
Tak terpikir
Tak pernah terasa
Pun terbayangkan
Hilang...
Pergi bersama angin yang menderu
Bercampur awan mendung
Hingga menjadikannya kian kelam
Bersama senja ku tinggalkan kisah
Antara jiwa yang pernah terkait
Menjemput malam dengan setitik harap
Kan bertemu bintang dalam pekat
Dipandu kunang-kunang
Ku jejaki samudra angan
Berlari menyusuri nampan kehidupan
Mencari jiwa yang pasti
Tempatkan ku di masa depannya
Namun...
Hingga fajar datang mentari tak kunjung bersinar
Senja Tetap Ada
Ketika fajar datang ku berjalan bersama angin
Ku jelajahi bumi, indah
Tapi,
Tak semenawan dirimu senja
Tlah berlalu jejakmu
Namun,
Tampak jelas bekasnya
Retak
Tak beraturan
Hancur
Terhapus hujan dari mataku
Bersama malam ku sembunyikan senja
Satukannya dengan pekat
Semoga hilang, harapku
Namun,
Tidak!
Senja tetap ada
Menyatu dengan udara
Jadi napas tuk paru-paruku
Ku jelajahi bumi, indah
Tapi,
Tak semenawan dirimu senja
Tlah berlalu jejakmu
Namun,
Tampak jelas bekasnya
Retak
Tak beraturan
Hancur
Terhapus hujan dari mataku
Bersama malam ku sembunyikan senja
Satukannya dengan pekat
Semoga hilang, harapku
Namun,
Tidak!
Senja tetap ada
Menyatu dengan udara
Jadi napas tuk paru-paruku
Kisah Mawar
Saat bunga tak berkumbang
Kau singgah di tamanku
Sekadar cicipi madu dari mawar tak bertuan
Ku tahu itu, kumbang
Kau
Datang tuk jadi pengganti
Terbang hinggap dalam jiwa yang kosong
Menawan penuh arti dengan sayap-sayap gemerlap
Kau singgah di taman hati ini
Hiburan sesaat bagimu
Tapi...
Tak untukku
Akulah anak kecil yang larut dalam rasa
Bermain dengan jiwa tak berhati
Manis memang
Bagai madu dirasa
Kental lekat dalam hati
Namun itu dulu
Dulu saat mawar tak berduri
Dulu saat mawar indah dipandang
Dulu saat harumnya masih tercium
Kini mawar tak lagi merah
Kau ubah jadi hitam pekat
Kau singgah di tamanku
Sekadar cicipi madu dari mawar tak bertuan
Ku tahu itu, kumbang
Kau
Datang tuk jadi pengganti
Terbang hinggap dalam jiwa yang kosong
Menawan penuh arti dengan sayap-sayap gemerlap
Kau singgah di taman hati ini
Hiburan sesaat bagimu
Tapi...
Tak untukku
Akulah anak kecil yang larut dalam rasa
Bermain dengan jiwa tak berhati
Manis memang
Bagai madu dirasa
Kental lekat dalam hati
Namun itu dulu
Dulu saat mawar tak berduri
Dulu saat mawar indah dipandang
Dulu saat harumnya masih tercium
Kini mawar tak lagi merah
Kau ubah jadi hitam pekat
16.4.11
Tanyaku
Kapan
Negeriku bahagia
Jika pemimpin hanya mencari tempat dan nama
Menjajakan janji-janji di pinggir jalan
Riuhkan rencana-rencana
Agar kami tergoda
Menusuk mereka di balik bilik
Kapan
Negeriku terbebas dari
Perampok-perampok berdasi
Yang merampas hak kami
Kapan
Negeriku damai
Raga dan jiwa menyatu sejahtera
Membangun negeri tercinta
Kapan
Kapan
Dan kapan
Mimpi kecil ini kan jadi nyata
Negeriku bahagia
Jika pemimpin hanya mencari tempat dan nama
Menjajakan janji-janji di pinggir jalan
Riuhkan rencana-rencana
Agar kami tergoda
Menusuk mereka di balik bilik
Kapan
Negeriku terbebas dari
Perampok-perampok berdasi
Yang merampas hak kami
Kapan
Negeriku damai
Raga dan jiwa menyatu sejahtera
Membangun negeri tercinta
Kapan
Kapan
Dan kapan
Mimpi kecil ini kan jadi nyata
?
Dimana kau berada
Ketika orang tak berhati itu
Menjarah barang di toko kami
Mengapa tak kau cegah
Kemana kau pergi
Ketika kami tertindih duka
Mendung menyelimuti langit kami
Kenapa kau acuhkan
Dimana kau berada
Ketika tanganmu kami butuhkan
Hei orang-orang berlebel polisi
Ketika orang tak berhati itu
Menjarah barang di toko kami
Mengapa tak kau cegah
Kemana kau pergi
Ketika kami tertindih duka
Mendung menyelimuti langit kami
Kenapa kau acuhkan
Dimana kau berada
Ketika tanganmu kami butuhkan
Hei orang-orang berlebel polisi
Dunia Kita
Luka memang hatiku
Menyaksikan kau tercabik kemiskinan
Oleh tingkah kehidupan
Tak adil memang
Manusia berdasi makan keju
Kau hanya makan sisa kemarin
Tapi, inilah dunia kita
Orang-orang kaya berlomba membuat gunung emas
Sedangkan kau hanya bisa membuat gunungan sampah
Andai mereka tahu
Hakmu ada padanya
Akankah mereka kan berbagi?
Tidak !
Ku rasa tidak
Terlalu padat egonya tuk dicairkan
Terlalu tebal dinding es dihatinya
Hingga tak mampu ditembus
Oleh panasnya nurani
Menyaksikan kau tercabik kemiskinan
Oleh tingkah kehidupan
Tak adil memang
Manusia berdasi makan keju
Kau hanya makan sisa kemarin
Tapi, inilah dunia kita
Orang-orang kaya berlomba membuat gunung emas
Sedangkan kau hanya bisa membuat gunungan sampah
Andai mereka tahu
Hakmu ada padanya
Akankah mereka kan berbagi?
Tidak !
Ku rasa tidak
Terlalu padat egonya tuk dicairkan
Terlalu tebal dinding es dihatinya
Hingga tak mampu ditembus
Oleh panasnya nurani
Rasaku
Bahagia ku disini
Lima menjadi satu di negeriku
Membangun damai bersama
Walau berbeda
Bahagia ku disini
Rukun menghormati perbedaan
Keyakinan yang tertancap dihati
Bahagia ku disini
Di negeri yang kata orang miskin
Tak apalah
Ku bahagia bersamanya
Lima menjadi satu di negeriku
Membangun damai bersama
Walau berbeda
Bahagia ku disini
Rukun menghormati perbedaan
Keyakinan yang tertancap dihati
Bahagia ku disini
Di negeri yang kata orang miskin
Tak apalah
Ku bahagia bersamanya
Terimakasih
Terimakasih Tuhan
Lewat tangan Malaysia
Kau sadarkan kami
Manusia-manusia buta
Akan negerinya sendiri
Terimakasih Tuhan
Kau buat kami tahu
Negeri ini berharta
Terimakasih Tuhan
Kini kami mengerti
Limpahan budaya yang terkubur di negeri kami
Perlu digali
Dan
Butuh diakui
Lewat tangan Malaysia
Kau sadarkan kami
Manusia-manusia buta
Akan negerinya sendiri
Terimakasih Tuhan
Kau buat kami tahu
Negeri ini berharta
Terimakasih Tuhan
Kini kami mengerti
Limpahan budaya yang terkubur di negeri kami
Perlu digali
Dan
Butuh diakui
Terhimpit Kemiskinan
Aku tergulung lautan derita
Yang dari lahir ku bawa
Lelah ku arungi samudra kehidupan
Yang terlanjur tak memihak
Manusia-manusia berkain perca
Seperti aku
Dan mereka
Yang lama tidur berselimut seonggok sampah
Sampai kapan seperti ini?
Sudah kenyang ku makan hati
Selalu bermimpi sepotong roti
Tak banyak pintaku
Bukan atap megah
Bukan pula sutra
Hanya ingin cicipi butiran padi tiga kali sehari
Namun,
Di negeriku itu
Pun sepertinya
Serasa inginkan mentari di malam gelap
Yang dari lahir ku bawa
Lelah ku arungi samudra kehidupan
Yang terlanjur tak memihak
Manusia-manusia berkain perca
Seperti aku
Dan mereka
Yang lama tidur berselimut seonggok sampah
Sampai kapan seperti ini?
Sudah kenyang ku makan hati
Selalu bermimpi sepotong roti
Tak banyak pintaku
Bukan atap megah
Bukan pula sutra
Hanya ingin cicipi butiran padi tiga kali sehari
Namun,
Di negeriku itu
Pun sepertinya
Serasa inginkan mentari di malam gelap
Karena Mereka
Sunyi
Tak ada lagi nyanyian hutan
Terdengar di telingaku
Tinggal sisa gema nyanyian yang dulu
Pun kini memudar
Itu karena mereka
Tangan tak bertanggungjawab
Rampas musik alamku
Kini
Makin parah adanya
Semua terlihat getir
Memandang kepulan bau anyir
Sisa gunungan sampah
Yang kemarin diacuhkan
Gelak tawa bahagia berganti duka dan air mata
Ketika amukan banjir menampar tiba-tiba
Sejarah luka terulang
Menjadi milik kita kembali
Karena mereka
Tangan tak berhati
Tak ada lagi nyanyian hutan
Terdengar di telingaku
Tinggal sisa gema nyanyian yang dulu
Pun kini memudar
Itu karena mereka
Tangan tak bertanggungjawab
Rampas musik alamku
Kini
Makin parah adanya
Semua terlihat getir
Memandang kepulan bau anyir
Sisa gunungan sampah
Yang kemarin diacuhkan
Gelak tawa bahagia berganti duka dan air mata
Ketika amukan banjir menampar tiba-tiba
Sejarah luka terulang
Menjadi milik kita kembali
Karena mereka
Tangan tak berhati
Tlah Pergi
Seindah rona merah langit
Hijaumu manjakan indraku
Lepaskan penat yang lama bersahabat
Sayang
Kini kau tlah pergi
Bukan inginmu memang
Saudaraku memaksamu
Mengganti posisi dengan barisan atap
Sebagai buah pikir dari kerumitan teori
Dan ungkapan keegoisan
Ah ! Sungguh
Sesal tertinggal
Dalam jiwa tanpa daya
Hijaumu manjakan indraku
Lepaskan penat yang lama bersahabat
Sayang
Kini kau tlah pergi
Bukan inginmu memang
Saudaraku memaksamu
Mengganti posisi dengan barisan atap
Sebagai buah pikir dari kerumitan teori
Dan ungkapan keegoisan
Ah ! Sungguh
Sesal tertinggal
Dalam jiwa tanpa daya
Inginku
Inginku sepertimu
Walau rapuh raga tetap berbagi
Pudarkan pekat malam
Tuk kami yang kegelapan
Apakah ku bisa?
Relakan raga tersakiti
Sepertimu
Tuk buat senyum berkembang di bibir tak tahu malu
Andai ku bisa
Kandangkan ego dalam pikir
Yakin bijak pun kan lahir
Namun ku rasa
Inginku tak sampai
Terbentengi keegoisan yang kian menjamur
Walau rapuh raga tetap berbagi
Pudarkan pekat malam
Tuk kami yang kegelapan
Apakah ku bisa?
Relakan raga tersakiti
Sepertimu
Tuk buat senyum berkembang di bibir tak tahu malu
Andai ku bisa
Kandangkan ego dalam pikir
Yakin bijak pun kan lahir
Namun ku rasa
Inginku tak sampai
Terbentengi keegoisan yang kian menjamur
Mereka Bukan untuk Kami
Mereka berbaris rapi
Menatapku dalam kebisuannya
Berdiri anggun berbalut hiasan kemewahan
Lahir dari rahim pikir manusia
Mereka busungkan dada
Pada kami yang hina
Bergaya elok bagai merak
Cerminan si empunya
Tak ada kasih yang dibagi
Mereka bukan milik kami
Bukan untuk kami
Raga yang tertutup perca
Mereka
Untuk mereka
Manusia-manusia berdasi
Menatapku dalam kebisuannya
Berdiri anggun berbalut hiasan kemewahan
Lahir dari rahim pikir manusia
Mereka busungkan dada
Pada kami yang hina
Bergaya elok bagai merak
Cerminan si empunya
Tak ada kasih yang dibagi
Mereka bukan milik kami
Bukan untuk kami
Raga yang tertutup perca
Mereka
Untuk mereka
Manusia-manusia berdasi
Raga yang Membisu
Kau tegap berdiri di sudut itu
Tak sempurna memang
Guratan ragamu nampak dimataku
Namun,
Kau tetap bertahan
Walau air mata langit kerap kali menggodamu
Demi masa yang kan hadir
Untukku dan mereka
Kau selalu membisu
Menyimpan rahasia sejarah
Yang lahir diragamu
Tak sempurna memang
Guratan ragamu nampak dimataku
Namun,
Kau tetap bertahan
Walau air mata langit kerap kali menggodamu
Demi masa yang kan hadir
Untukku dan mereka
Kau selalu membisu
Menyimpan rahasia sejarah
Yang lahir diragamu
Sesal
Guru,
Kau pudarkan pekat malam dunia
Sebarkan mentari tuk masa depan
Lambat ku sadari
Hadirmu untukku
Memberi warna dalam kanvas kehidupan
Andai ku tahu lebih awal
Tak kan ku biarkan
Pikir busukku bersemayam
Mengisi rongga-rongga otakku
Saat masih putih biru
Waktu membuka mata sayuku
Dari salah pikir tak berdosa
Dari pandangan tak bersalah
Saat putih abu-abu membalut ragaku
Baru ku sadari
Hadirmu berarti
Tuk torehkan jejak sukses di ruangku
Guru,
Sesal menyergap
Jiwa yang tak tahu malu ini
Kau pudarkan pekat malam dunia
Sebarkan mentari tuk masa depan
Lambat ku sadari
Hadirmu untukku
Memberi warna dalam kanvas kehidupan
Andai ku tahu lebih awal
Tak kan ku biarkan
Pikir busukku bersemayam
Mengisi rongga-rongga otakku
Saat masih putih biru
Waktu membuka mata sayuku
Dari salah pikir tak berdosa
Dari pandangan tak bersalah
Saat putih abu-abu membalut ragaku
Baru ku sadari
Hadirmu berarti
Tuk torehkan jejak sukses di ruangku
Guru,
Sesal menyergap
Jiwa yang tak tahu malu ini
Ayah
Ayah
Lambat ku kenali rasa ini
Cinta yang terselip dalam amarahmu
Membakar letih ragamu
Ayah
Kau harus tahu
Rasaku juga milikmu
Walau tak sanggup ku lahirkan dari bibir kecil ini
Ayah
Kau harus mengerti
Bangga menyelimuti jiwa ini
Ketika ku tunjukkan namamu
Ayah
Terimakasih
Kau biarkan ragamu menghitam
Tuk buat jiwaku merona
Lambat ku kenali rasa ini
Cinta yang terselip dalam amarahmu
Membakar letih ragamu
Ayah
Kau harus tahu
Rasaku juga milikmu
Walau tak sanggup ku lahirkan dari bibir kecil ini
Ayah
Kau harus mengerti
Bangga menyelimuti jiwa ini
Ketika ku tunjukkan namamu
Ayah
Terimakasih
Kau biarkan ragamu menghitam
Tuk buat jiwaku merona
Ibu
Saat langit melahirkan rona merahnya
Kau kandangkan rasaku
Menguapkan benih benih ketakutan
Yang terlahir dari rahim kesendirian
Saat itulah
Ibu,
Kau sebarkan mentari pada jiwa ini
Terik yang membuatku mengerti
Hadirmu berarti
Ibu,
Dalam rapuh ragamu
Tersimpan deretan pasukan keberanian
Yang siap berjuang
Hingga lahir pelangi di ruangku
Kau kandangkan rasaku
Menguapkan benih benih ketakutan
Yang terlahir dari rahim kesendirian
Saat itulah
Ibu,
Kau sebarkan mentari pada jiwa ini
Terik yang membuatku mengerti
Hadirmu berarti
Ibu,
Dalam rapuh ragamu
Tersimpan deretan pasukan keberanian
Yang siap berjuang
Hingga lahir pelangi di ruangku
22.2.11
Penantian
Entah sampai kapan
Ku biarkan bulir air jatuh dari sudut mataku
Entah sampai kapan
Ku tenggelamkan sepasang bola mata ini
Entah sampai kapan
Ku diamkan raga di sini
Entah sampai kapan
Ku biarkan jejak ini menyusurimu
Entah sampai kapan begini?
Jiwaku merindu
Ku tahu kau pun begitu
Dari kata yang kau selipkan pada tangisan langit
Jiwaku merindu
Ku tahu kau pun begitu
Dari isyarat yang kau titipkan pada angin yang menderu
Ribuan detik ku habiskan di sini
Tapi,
Kasih
Kau terdiam membisu
Biarkanku hanyutkan jiwa pada sungai masa lalu
Yang bermuara pada tanah merah ini
Namun,
Kasih
Ku bahagia
Ratusan kalimat yang terangkai dari bibir kecil ini
Kau balas dengan senyum pusaramu
Ku biarkan bulir air jatuh dari sudut mataku
Entah sampai kapan
Ku tenggelamkan sepasang bola mata ini
Entah sampai kapan
Ku diamkan raga di sini
Entah sampai kapan
Ku biarkan jejak ini menyusurimu
Entah sampai kapan begini?
Jiwaku merindu
Ku tahu kau pun begitu
Dari kata yang kau selipkan pada tangisan langit
Jiwaku merindu
Ku tahu kau pun begitu
Dari isyarat yang kau titipkan pada angin yang menderu
Ribuan detik ku habiskan di sini
Tapi,
Kasih
Kau terdiam membisu
Biarkanku hanyutkan jiwa pada sungai masa lalu
Yang bermuara pada tanah merah ini
Namun,
Kasih
Ku bahagia
Ratusan kalimat yang terangkai dari bibir kecil ini
Kau balas dengan senyum pusaramu
Kanvas Hitam
Rona merah langit membangunkanku
Dari hidup yang membisu
Menyadarkanku betapa
Purnama merindukan senyum
Tawa yang tlah lama tertidur
Terkandang oleh keegoisan
Langit yang membagi pekatnya
Pada sepasang mata yang tertegun
Menjadikannya gulita
Redup dalam kanvas hitam dunia
Sungguh...
Matahari menangis
Bulan tak kunjung pergi
Seakan ingin terus meraja
Tak ingin berbagi
Tak ingin bersahabat
Tak ingin berganti
Entah sampai kapan
Akankah sampai bulan menyatu dengan matahari?
Atau sampai pelangi hadir dalam pelukan malam??
Aku tak tahu
Tak ingin mengartikannya
Walau aku mampu menguraikan semua
Dari hidup yang membisu
Menyadarkanku betapa
Purnama merindukan senyum
Tawa yang tlah lama tertidur
Terkandang oleh keegoisan
Langit yang membagi pekatnya
Pada sepasang mata yang tertegun
Menjadikannya gulita
Redup dalam kanvas hitam dunia
Sungguh...
Matahari menangis
Bulan tak kunjung pergi
Seakan ingin terus meraja
Tak ingin berbagi
Tak ingin bersahabat
Tak ingin berganti
Entah sampai kapan
Akankah sampai bulan menyatu dengan matahari?
Atau sampai pelangi hadir dalam pelukan malam??
Aku tak tahu
Tak ingin mengartikannya
Walau aku mampu menguraikan semua
17.2.11
Rasa
Saat cinta melahirkan kesetiaan
Darah muda mendidih
Menguapkan benih-benih ketakutan
Melahirkan semangat
Melahirkan kekuatan
Melahirkan keberanian
Yang terlahirkan dari rahim kebencian
Saat itulah...
Ku kandangkan amarah
Ku biarkan dusta berkeliaran
Membawa deretan pasukan kebencian
Yang terlahirkan dari kesetiaan
Darah muda mendidih
Menguapkan benih-benih ketakutan
Melahirkan semangat
Melahirkan kekuatan
Melahirkan keberanian
Yang terlahirkan dari rahim kebencian
Saat itulah...
Ku kandangkan amarah
Ku biarkan dusta berkeliaran
Membawa deretan pasukan kebencian
Yang terlahirkan dari kesetiaan
Angan
Hentakkan air mata langit memudarkan anganku
Menghapus impian
Menggagalkannya
Hingga tak sempat dilahirkan
Anganku melayang
Terbang menjauhiku disini
Berlari ketakutan
Lari
Lari dan terus berlari
Hingga tak ku dapatkan jejaknya
Kemana kau pergi?
Benar kau pergi?!
Atau hanya sembunyi??
Kembalilah!!!
Ku ingin lahirkanmu
Dari rahim pikirku
Ku inginkanmu
Tuk buat pelangi di ruangku
Menghapus impian
Menggagalkannya
Hingga tak sempat dilahirkan
Anganku melayang
Terbang menjauhiku disini
Berlari ketakutan
Lari
Lari dan terus berlari
Hingga tak ku dapatkan jejaknya
Kemana kau pergi?
Benar kau pergi?!
Atau hanya sembunyi??
Kembalilah!!!
Ku ingin lahirkanmu
Dari rahim pikirku
Ku inginkanmu
Tuk buat pelangi di ruangku
Kunang-kunang
Tak ada yang lebih baik dari kunang-kunang
Dipudarkannya pekat langit lewat sayap-sayapnya
Tak ada yang lebih baik dari kunang-kunang
Diciptakannya hidup di dalam kelabu
Tak ada yang lebih baik dari kunang-kunang
Dibiarkannya kata-kata muram diserap kelamnya langit
Tak ada yang lebih baik dari kunang-kunang
Dirahasiakannya rintik kerapuhannya kepada jiwa
Dipudarkannya pekat langit lewat sayap-sayapnya
Tak ada yang lebih baik dari kunang-kunang
Diciptakannya hidup di dalam kelabu
Tak ada yang lebih baik dari kunang-kunang
Dibiarkannya kata-kata muram diserap kelamnya langit
Tak ada yang lebih baik dari kunang-kunang
Dirahasiakannya rintik kerapuhannya kepada jiwa
Tak kan ku biarkan
Tak kan ku biarkan jasadmu tergores kata yang ku hujamkan
Tak kan ku biarkan jiwamu mengerti isyarat yang ku layangkan
Tak kan ku biarkan hidupmu menyatu denganku
Lebih-lebih
Tak kan ku biarkan redupmu menghantuiku
Tak kan ku biarkan jiwamu mengerti isyarat yang ku layangkan
Tak kan ku biarkan hidupmu menyatu denganku
Lebih-lebih
Tak kan ku biarkan redupmu menghantuiku
....
Saat ku pikir kau ada
Ternyata pergi
Saat ku pikir kau pergi
Ternyata kembali
Saat ku pikir semua berakhir
Ternyata dunia baru berkata pagi
Kini baru kusadari tak satu rel denganmu
Sampai jumpa
Sampai kembali lagi
Sampai di rel yang sama
Ternyata pergi
Saat ku pikir kau pergi
Ternyata kembali
Saat ku pikir semua berakhir
Ternyata dunia baru berkata pagi
Kini baru kusadari tak satu rel denganmu
Sampai jumpa
Sampai kembali lagi
Sampai di rel yang sama
Maaf
Kau yang buatnya seperti ini
Menyayat relungku dengan tawamu
Desiran kata hitam
Merobekkan mentari
Membuncahkan amarah
Yang sudah kukandangkan
Inginku tak begini
Tapi....
Pikirku merubah jejakku
Maafkan
Maafkan pikirku
Maafkan langkahku
Maafkan
Maafkan aku
Maaf
Menyayat relungku dengan tawamu
Desiran kata hitam
Merobekkan mentari
Membuncahkan amarah
Yang sudah kukandangkan
Inginku tak begini
Tapi....
Pikirku merubah jejakku
Maafkan
Maafkan pikirku
Maafkan langkahku
Maafkan
Maafkan aku
Maaf
Andai
andai ku tahu lebih awal
ku tak kan begini
andai ku tahu lebih awal
ku tak kan lakukan itu
andai ku tahu lebih awal
ku tak kan biarkan pikirku begitu
andai ku tahu lebih awal
rasanya tak kan begini
andai ku tahu lebih awal
tak kan ku biarkan kau jajah hidupku
merajaiku
merampas pelangiku
membawanya berlari
hingga kini
meninggalkan jejak-jejak egoismu
menyatu dengan jiwa yang kelam
redupkan mentari yang sedang menari
dan ku bisa melihat
lubang-lubang mewarnai jiwa kosongku
ku tak kan begini
andai ku tahu lebih awal
ku tak kan lakukan itu
andai ku tahu lebih awal
ku tak kan biarkan pikirku begitu
andai ku tahu lebih awal
rasanya tak kan begini
andai ku tahu lebih awal
tak kan ku biarkan kau jajah hidupku
merajaiku
merampas pelangiku
membawanya berlari
hingga kini
meninggalkan jejak-jejak egoismu
menyatu dengan jiwa yang kelam
redupkan mentari yang sedang menari
dan ku bisa melihat
lubang-lubang mewarnai jiwa kosongku
3.2.11
jejak awal
langkah jari jemari ne mengantarkan q pada sebuah kanvas luas yang kosong..mulai detik ne q akan memberinya warna..warna yang jelas bukan abu-abu..kan q lukiskan semua gambar hidup q disini..di kanvas yang baru tak ternoda ne..
Langganan:
Komentar (Atom)