10.7.11

Saksi Bisu

Ketika hujan mulai menapaki jejaknya
Gerimis turun dari sudut mataku
Bersama bermuara pada tanah

Tanah adalah sampah
Dari sisa kata yang terbuang Cuma

Tanah adalah mata
Saksi tiap tapak tak berdosa
Menjadi budak dalam ruangnya
Saksi tiap gerik serigala liar
Yang memakan bangkai saudaranya

Tanah adalah telinga
Pendengar setia dari serpihan kata tak bermakna

Tanah adalah penjaga rahasia
Diserapnya kata-kata kelam yang dihujamkan
Serigala liar,
Dikunci rapat bibirnya tuk tak bersua

Dalam kebisuannya tanah adalah saksi

Jejak Senja

Kemarin ketika senjaku datang...
Mawar tumbuh di karangan
Mekar dalam ruang kosong
Tanpa rasa tanpa nada
Setetes harapan pun ada
Merobekkan rongga-rongga keraguan
Meruntuhkan dinding kesunyian

Lalu...
Kemarin ketika senjaku tinggal
Pelangi pun kian merona
Pada gerimis pagi di sudut mata

Namun...
Kemarin ketika senjaku pergi
Malam menjemput
Lama nian tak kunjung berakhir

Enggan senyum pagi menyapa
Pada ayam yang berdendang
Pun enggan tinggalkan
Jangkrik bermusik

Langkah Jiwa

Bersama mentari ku leburkan amarah dalam dada
Menyatu dengan kebencian yang terlahir dari tingkahmu
Manisnya kasih dulu
Kini berganti asamnya rasa

Tak terpikir
Tak pernah terasa
Pun terbayangkan

Hilang...

Pergi bersama angin yang menderu
Bercampur awan mendung
Hingga menjadikannya kian kelam

Bersama senja ku tinggalkan kisah
Antara jiwa yang pernah terkait
Menjemput malam dengan setitik harap
Kan bertemu bintang dalam pekat

Dipandu kunang-kunang
Ku jejaki samudra angan
Berlari menyusuri nampan kehidupan
Mencari jiwa yang pasti
Tempatkan ku di masa depannya

Namun...
Hingga fajar datang mentari tak kunjung bersinar

Senja Tetap Ada

Ketika fajar datang ku berjalan bersama angin
Ku jelajahi bumi, indah
Tapi,
Tak semenawan dirimu senja

Tlah berlalu jejakmu
Namun,
Tampak jelas bekasnya
Retak
Tak beraturan
Hancur
Terhapus hujan dari mataku

Bersama malam ku sembunyikan senja
Satukannya dengan pekat
Semoga hilang, harapku

Namun,

Tidak!

Senja tetap ada
Menyatu dengan udara
Jadi napas tuk paru-paruku

Kisah Mawar

Saat bunga tak berkumbang
Kau singgah di tamanku
Sekadar cicipi madu dari mawar tak bertuan
Ku tahu itu, kumbang

Kau
Datang tuk jadi pengganti
Terbang hinggap dalam jiwa yang kosong
Menawan penuh arti dengan sayap-sayap gemerlap
Kau singgah di taman hati ini

Hiburan sesaat bagimu
Tapi...
Tak untukku

Akulah anak kecil yang larut dalam rasa
Bermain dengan jiwa tak berhati

Manis memang
Bagai madu dirasa
Kental lekat dalam hati

Namun itu dulu
Dulu saat mawar tak berduri
Dulu saat mawar indah dipandang
Dulu saat harumnya masih tercium

Kini mawar tak lagi merah
Kau ubah jadi hitam pekat