Entah sampai kapan
Ku biarkan bulir air jatuh dari sudut mataku
Entah sampai kapan
Ku tenggelamkan sepasang bola mata ini
Entah sampai kapan
Ku diamkan raga di sini
Entah sampai kapan
Ku biarkan jejak ini menyusurimu
Entah sampai kapan begini?
Jiwaku merindu
Ku tahu kau pun begitu
Dari kata yang kau selipkan pada tangisan langit
Jiwaku merindu
Ku tahu kau pun begitu
Dari isyarat yang kau titipkan pada angin yang menderu
Ribuan detik ku habiskan di sini
Tapi,
Kasih
Kau terdiam membisu
Biarkanku hanyutkan jiwa pada sungai masa lalu
Yang bermuara pada tanah merah ini
Namun,
Kasih
Ku bahagia
Ratusan kalimat yang terangkai dari bibir kecil ini
Kau balas dengan senyum pusaramu
alunan jemari ini telah menorehkan sejarah baru melalui ukiran kata sederhana yang menjadi puisi dengan iringan gending celoteh dalam sebuah cerita pendek yang dilakonkan rapi dalam drama kehidupan..... kini serpihan karya-karya itu kupasang dalam kotak puzzle blogku..
22.2.11
Kanvas Hitam
Rona merah langit membangunkanku
Dari hidup yang membisu
Menyadarkanku betapa
Purnama merindukan senyum
Tawa yang tlah lama tertidur
Terkandang oleh keegoisan
Langit yang membagi pekatnya
Pada sepasang mata yang tertegun
Menjadikannya gulita
Redup dalam kanvas hitam dunia
Sungguh...
Matahari menangis
Bulan tak kunjung pergi
Seakan ingin terus meraja
Tak ingin berbagi
Tak ingin bersahabat
Tak ingin berganti
Entah sampai kapan
Akankah sampai bulan menyatu dengan matahari?
Atau sampai pelangi hadir dalam pelukan malam??
Aku tak tahu
Tak ingin mengartikannya
Walau aku mampu menguraikan semua
Dari hidup yang membisu
Menyadarkanku betapa
Purnama merindukan senyum
Tawa yang tlah lama tertidur
Terkandang oleh keegoisan
Langit yang membagi pekatnya
Pada sepasang mata yang tertegun
Menjadikannya gulita
Redup dalam kanvas hitam dunia
Sungguh...
Matahari menangis
Bulan tak kunjung pergi
Seakan ingin terus meraja
Tak ingin berbagi
Tak ingin bersahabat
Tak ingin berganti
Entah sampai kapan
Akankah sampai bulan menyatu dengan matahari?
Atau sampai pelangi hadir dalam pelukan malam??
Aku tak tahu
Tak ingin mengartikannya
Walau aku mampu menguraikan semua
17.2.11
Rasa
Saat cinta melahirkan kesetiaan
Darah muda mendidih
Menguapkan benih-benih ketakutan
Melahirkan semangat
Melahirkan kekuatan
Melahirkan keberanian
Yang terlahirkan dari rahim kebencian
Saat itulah...
Ku kandangkan amarah
Ku biarkan dusta berkeliaran
Membawa deretan pasukan kebencian
Yang terlahirkan dari kesetiaan
Darah muda mendidih
Menguapkan benih-benih ketakutan
Melahirkan semangat
Melahirkan kekuatan
Melahirkan keberanian
Yang terlahirkan dari rahim kebencian
Saat itulah...
Ku kandangkan amarah
Ku biarkan dusta berkeliaran
Membawa deretan pasukan kebencian
Yang terlahirkan dari kesetiaan
Angan
Hentakkan air mata langit memudarkan anganku
Menghapus impian
Menggagalkannya
Hingga tak sempat dilahirkan
Anganku melayang
Terbang menjauhiku disini
Berlari ketakutan
Lari
Lari dan terus berlari
Hingga tak ku dapatkan jejaknya
Kemana kau pergi?
Benar kau pergi?!
Atau hanya sembunyi??
Kembalilah!!!
Ku ingin lahirkanmu
Dari rahim pikirku
Ku inginkanmu
Tuk buat pelangi di ruangku
Menghapus impian
Menggagalkannya
Hingga tak sempat dilahirkan
Anganku melayang
Terbang menjauhiku disini
Berlari ketakutan
Lari
Lari dan terus berlari
Hingga tak ku dapatkan jejaknya
Kemana kau pergi?
Benar kau pergi?!
Atau hanya sembunyi??
Kembalilah!!!
Ku ingin lahirkanmu
Dari rahim pikirku
Ku inginkanmu
Tuk buat pelangi di ruangku
Kunang-kunang
Tak ada yang lebih baik dari kunang-kunang
Dipudarkannya pekat langit lewat sayap-sayapnya
Tak ada yang lebih baik dari kunang-kunang
Diciptakannya hidup di dalam kelabu
Tak ada yang lebih baik dari kunang-kunang
Dibiarkannya kata-kata muram diserap kelamnya langit
Tak ada yang lebih baik dari kunang-kunang
Dirahasiakannya rintik kerapuhannya kepada jiwa
Dipudarkannya pekat langit lewat sayap-sayapnya
Tak ada yang lebih baik dari kunang-kunang
Diciptakannya hidup di dalam kelabu
Tak ada yang lebih baik dari kunang-kunang
Dibiarkannya kata-kata muram diserap kelamnya langit
Tak ada yang lebih baik dari kunang-kunang
Dirahasiakannya rintik kerapuhannya kepada jiwa
Tak kan ku biarkan
Tak kan ku biarkan jasadmu tergores kata yang ku hujamkan
Tak kan ku biarkan jiwamu mengerti isyarat yang ku layangkan
Tak kan ku biarkan hidupmu menyatu denganku
Lebih-lebih
Tak kan ku biarkan redupmu menghantuiku
Tak kan ku biarkan jiwamu mengerti isyarat yang ku layangkan
Tak kan ku biarkan hidupmu menyatu denganku
Lebih-lebih
Tak kan ku biarkan redupmu menghantuiku
....
Saat ku pikir kau ada
Ternyata pergi
Saat ku pikir kau pergi
Ternyata kembali
Saat ku pikir semua berakhir
Ternyata dunia baru berkata pagi
Kini baru kusadari tak satu rel denganmu
Sampai jumpa
Sampai kembali lagi
Sampai di rel yang sama
Ternyata pergi
Saat ku pikir kau pergi
Ternyata kembali
Saat ku pikir semua berakhir
Ternyata dunia baru berkata pagi
Kini baru kusadari tak satu rel denganmu
Sampai jumpa
Sampai kembali lagi
Sampai di rel yang sama
Maaf
Kau yang buatnya seperti ini
Menyayat relungku dengan tawamu
Desiran kata hitam
Merobekkan mentari
Membuncahkan amarah
Yang sudah kukandangkan
Inginku tak begini
Tapi....
Pikirku merubah jejakku
Maafkan
Maafkan pikirku
Maafkan langkahku
Maafkan
Maafkan aku
Maaf
Menyayat relungku dengan tawamu
Desiran kata hitam
Merobekkan mentari
Membuncahkan amarah
Yang sudah kukandangkan
Inginku tak begini
Tapi....
Pikirku merubah jejakku
Maafkan
Maafkan pikirku
Maafkan langkahku
Maafkan
Maafkan aku
Maaf
Andai
andai ku tahu lebih awal
ku tak kan begini
andai ku tahu lebih awal
ku tak kan lakukan itu
andai ku tahu lebih awal
ku tak kan biarkan pikirku begitu
andai ku tahu lebih awal
rasanya tak kan begini
andai ku tahu lebih awal
tak kan ku biarkan kau jajah hidupku
merajaiku
merampas pelangiku
membawanya berlari
hingga kini
meninggalkan jejak-jejak egoismu
menyatu dengan jiwa yang kelam
redupkan mentari yang sedang menari
dan ku bisa melihat
lubang-lubang mewarnai jiwa kosongku
ku tak kan begini
andai ku tahu lebih awal
ku tak kan lakukan itu
andai ku tahu lebih awal
ku tak kan biarkan pikirku begitu
andai ku tahu lebih awal
rasanya tak kan begini
andai ku tahu lebih awal
tak kan ku biarkan kau jajah hidupku
merajaiku
merampas pelangiku
membawanya berlari
hingga kini
meninggalkan jejak-jejak egoismu
menyatu dengan jiwa yang kelam
redupkan mentari yang sedang menari
dan ku bisa melihat
lubang-lubang mewarnai jiwa kosongku
3.2.11
jejak awal
langkah jari jemari ne mengantarkan q pada sebuah kanvas luas yang kosong..mulai detik ne q akan memberinya warna..warna yang jelas bukan abu-abu..kan q lukiskan semua gambar hidup q disini..di kanvas yang baru tak ternoda ne..
Langganan:
Komentar (Atom)